Khotbah – Melangkah dengan Pasti dalam Badai Krisis (Ekonomi)

krisis-keuangan-gereja

Pendahuluan
Ilustrasi – Jangan Putus Asa

Pada suatu hari, iblis sedang bokek (=kurang uang), lalu mengiklankan bahwa ia akan mengobral perkakas-perkakas kerjanya. Pada hari H, seluruh perkakasnya dipajang untuk dilihat calon pembelinya, lengkap dengan harga jualnya. Seperti kalau kita masuk ke toko hardware, barang yang dijual sungguh menarik, dan semua barang kelihatan sangat berguna sesuai fungsinya. Harganyapun tidak mahal. {buat list}

Barang yang dijual antara lain; Dengki, Iri, Tidak Jujur, Tidak Menghargai Orang Lain, Tak Tahu Terima Kasih, Malas, Dendam, dan lain-lainnya.

Di suatu pojok display, ada satu perkakas yang bentuknya sederhana, sudah agak aus, tampaknya sering sekali dipakai, tetapi harganya sangat tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan yang lain.

Salah satu calon pembeli bertanya, “Ini alat apa namanya?” Iblis menjawab: “Itu namanya Putus Asa” “Kenapa harganya mahal sekali, padahal sudah aus?” “Ya, karena perkakas ini sangat mudah dipakai dan berdaya guna tinggi. Saya bisa dengan mudah masuk ke dalam hati manusia dengan alat ini dibandingkan dengan alat lain. Begitu saya berhasil masuk ke dalam hati manusia, saya dengan sangat mudah melakukan apa saja yang saya inginkan terhadap manusia tersebut. Barang ini menjadi aus karena saya sering menggunakannya kepada hampir semua orang, karena kebanyakan manusia tidak tahu kalau Putus Asa itu milik saya”.

Di saat situasi ekonomi Indonesia, terutama dunia, yang sedang dalam keadaan sulit, memang mudah sekali bagi kita putus asa. Mungkin toko kita menjadi sepi, mungkin usaha kita menunjukkan tanda-tanda kesulitan untuk sekedar bertahan, lalu kita putus asa. Tetapi ingatlah bahwa putus asa itu alatnya iblis untuk melemahkan kita. Agar kita selalu melangkah dengan ragu-ragu, dan dengan kekuatiran. Tuhan ingin kita bebas dari ketakutan, dari kekuatiran. Tuhan menginginkan kita bisa melangkah dengan pasti, dengan yakin, dalam situasi apapun.

Kalimat Peralihan
Bagaimana caranya agar kita dapat bisa bebas dari ketakutan dan kekuatiran? Bagaimana caranya agar kita dapat melangkah dengan pasti dalam badai krisis? Mari kita melihat peristiwa ketika murid-murid Tuhan Yesus berada di dalam badai. Salah satu mereka berhasil untuk melangkah dalam badai. Baca: Matius 14:22-33.

Isi
1. Mengingat dan menomor satukan mencari pertolongan Tuhan
Saat permasalahan datang, seringkali yang terjadi adalah kita panik, lalu kemudian berusaha melakukan sesuatu dan melupakan sama sekali Tuhan. Seperti yang dilakukan oleh murid-murid Tuhan Yesus ketika mereka berada di tengah badai. Mereka sama sekali tidak terpikir bahwa yang datang mungkin saja Tuhan. Kemungkinan bahwa Tuhan datang untuk menolong sama sekali tidak terpikir pada waktu itu. Yang mereka pikir, malah mungkin itu hantu!!!

Saya rasanya kita semua sering begitu. Tatkala masalah datang, kita panik dan membuat kita seringkali melupakan keberadaan dan kekuasaan Tuhan. Padahal mengingat Tuhan adalah satu-satunya kesempatan kita akan baik-baik saja.

Ilustrasi: lihat grafik, penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang melakukan aktivitas agama sangat sedikit sekali, bahkan aktivitas berpakaian lebih sering dilakukan daripada aktivitas agamawi.

Dalam situasi paling sulit pun, ingatlah Tuhan. Nomor satukan Dia. Sebab Tuhan mampu menjaga dan memulihkan hidup kita. Jika iblis memberikan kepada kita keputus-asaan, Tuhan memberikan kepada kita harapan dan jalan keluar (Amin???). Jangan seperti para murid, malah ingatnya hantu, bukan Tuhan. Jangan sampai dalam situasi sulit, kita malah berpaling kepada dukun dan teman-temannya. Sebab, sekali lagi jualannya iblis adalah hal-hal ini. Tidak ada yang baik.

Dengan menomor satukan Tuhan, maka kita berjalan bersama dengan Tuhan, dan kalau kita berjalan bersama Tuhan, maka kita mampu untuk melangkah dengan pasti di dalam badai sekalipun. Firman Tuhan berkata: Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya akan ditambahkan kepada-Mu. Ketika kita menomor satukan Tuhan, Tuhan menomor-satukan kita. Ketika kia menduakan Tuhan, salahkan Tuhan juga Dia menomor-duakan kita?
Ilustrasi: Persembahan perpuluhan, hitung dulu semua pengeluaran, nah ini untuk Tuhan. Lalu ternyata tidak cukup, kita berkata “Tuhan, bulan depan be ya Tuhan. Tuhan mengertilah, zaman lagi susah”. Lalu, Tuhan menjawab, “Oke. Saya mengerti. Dan Berkat khususnya bulan depan juga ya.”

2. Membuang Beban Keraguan dan Kekuatiran (yang Merusakkan Segala Sesuatu)
Petrus memiliki iman yang luar biasa pada awalnya. Permintaannya luar biasa, untuk bisa berjalan di atas air bersama Tuhan. Bayangkan kalau kita jadi Petrus, tidakkah kita bangga? Tidakkah kita merasa hebat??? Peristiwa ini membuktikan kepada kita satu hal penting, yaitu bahwa bersama Allah aku bisa melakukan hal-hal yang mustahil. Mari kita katakan bersama, “Aku bisa berjalan di atas air. Kalaupun tampaknya mustahil, aku bisa melakukannya bersama Tuhan.” (Coba ulangi)

Tetapi, pada waktu itu Petrus, setelah berhasil berjalan di atas air, lalu karena merasakan kuatnya tiupan angin, akhirnya menjadi takut, ragu, kuatir, dan akhirnya tenggelam. Petrus gagal berjalan dengan pasti di dalam badai karena ia menjadi kuatir dan takut.

Mengenai kekuatiran, firman Tuhan [Matius 6:25-30.. ] mengajarkan kepada kita bahwa kekuatiran tidak pernah menghasilkan apapun kecuali kerusakan. Kekuatiran tidak akan memperpanjang umur kita, melainkan malah memperpendeknya. Banyak sekali penyakit manusia dapat dihubungkan dengan rasa kekuatiran atau stress (penyakit gondok, darah tinggi, migren, maag, jantung, kebutaan, dan masih banyak lainnya). Usaha kita juga tidak akan bertambah baik kalau kita terus menerus kuatir, atau stress, melainkan malah dapat membuat usaha kita semakin bertambah buruk.

Yesus mengatakan kalimat ini, jangan kuatir akan hidupmu, akan apa yang kau makan dan kau pakai. Tidak berarti makanan dan pakaian itu tidak penting. Tetapi Yesus mengajar kita melihat mana yang lebih penting. Maka Dia mengatakan, bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaiannya? Jangan dibalik. Yesus mengatakan jangan sampai kebutuhan akan makanan itu menjadi sesuatu yang terus kita pikirkan melebihi hidup yang seharusnya kita perhatikan. Jangan sampai kebutuhan akan pakaian menjadi sesuatu yang terus kita pikirkan melebihi tubuh yang seharusnya kita rawat.

Tuhan sudah berkata, kita lebih berharga dari burung dan bunga di pinggir jalan. Jika Tuhan merawat burung dengan menyediakan makanannya dan mendandani penampilan rumput di pinggir jalan, sudah tentu PASTI bahwa Tuhan menyediakan kebutuhan kita akan makanan dan pakaian.

Karena situasi ekonomi bertambah buruk, karena kuatir akan masa depan, kita mungkin berpikir untuk semakin bekerja keras sampai merusak tubuh kita. Kita lupa makan, lupa minum, lupa tidur. Tetapi apa hasilnya? Tidak ada yang baik. Dan yang luar biasanya, di saat kapankah Tuhan mengirimkan berkat-Nya kepada kita??? Apakah saat kita sedang bekerja dengan gila-gilaan? Tidak, melainkan saat kita sedang tidur. [Mazmur 127:2]. Saat kita menyediakan waktu yang cukup untuk bekerja dan cukup untuk tidurlah, Tuhan menyediakan berkat-Nya. Berkat Tuhan tidak akan bertambah ataupun berkurang, karena kita bekerja terlalu giat karena terlalu kuatir dan sampai lupa makan lupa minum lupa tidur. Jadi bekerjalah pada waktunya, berhenti terlalu kuatir, dan tetaplah makan, minum, dan tidur pada waktunya. Dan kita akan baik-baik saja. Buanglah beban kekuatiran dan keraguan, maka kita akan baik-baik saja.

Penutup
Kita bisa melangkah dengan pasti bersama Tuhan di dalam badai apapun, termasuk dalam badai krisis ekonomi. Yang kita perlukan cuma:
1) Selalu mengingat dan menomor satukan Tuhan dalam segala usaha kita. Sebab apabila kita melangkah bersama dengan Tuhan, siapa atau apa yang bisa menjadi lawan kita? Tidak ada!!!
2) Membuang beban kekuatiran dan keraguan, menyerahkannya kepada Tuhan. Menyerahkan kekuatiran kita kepada Tuhan membuat perjalanan kita bersama Tuhan menjadi perjalanan yang penuh kemenangan. [Filipi 4:6-7]

Mungkin pertanyaan terakhir kita adalah: mengapa Allah mengizinkan badai terjadi??? Mengapa Tuhan tidak mencegah saja terjadi badai dari awal, dan menjaga kehidupan kita benar-benar tanpa masalah saja? Tidak perlu merasakan takut, tidak perlu merasakan kekuatiran.

Ilustrasi:

Pada suatu malam, dua malaikat yang sedang berkelana menginap di rumah suatu keluarga kaya. Keluarga itu tidak ramah. Kedua malaikat itu diberinya tempat tidur di gudang yang dingin. Di situ malaikat yang senior melihat ada lubang di dinding, dan ia memperbaikinya.

Malam berikutnya kedua malaikat itu menginap di suatu keluarga petani yang miskin, tetapi mereka sangat ramah. Kedua malaikat itu dipersilahkan makan malam bersama mereka dan diberikan tempat tidur mereka agar dapat beristirahat dengan nyaman. Namun keesokan harinya kedua malaikat itu mendapatkan petani dan isterinya menangis karena sapinya mati. Padahal sapi itu merupakan satu-satunya sumber penghasilan mereka.

Malaikat yang junior menjadi bingung. Ia protes, lalu bertanya pada yang senior, mengapa keluarga yang kaya namun tak ramah dibantunya. Tetapi pada keluarga yang miskin namun mau membagikan milik mereka, sapinya dibiarkan mati.

Malaikat senior menjawab, “Segala sesuatu sering tidak seperti yang terlihat. Ketika kita tidur di gudang keluarga kaya itu, saya melihat ada harta karun di balik lubang dinding. Saya segera menutupnya agar keluarga itu tidak menemukannya. Dan malam tadi ketika kita tidur di tempat tidur petani miskin, saya melihat malaikat kematian menghampiri isterinya. Dan saya berikan padanya sapinya.”

Kadang-kadang hal seperti itulah yang terjadi dalam kehidupan kita ketika sesuatu terjadi secara tidak kita harapkan. Tetapi berimanlah, bahwa setiap akibat kejadian itu selalu menguntungkan kita, selalu membawa kebaikan kepada kita. Mungkin Anda tidak menyadarinya, sampai beberapa selang waktu kemudian …. Yang pasti firman Tuhan berkata, nanti kalau kita sudah di depan, kita tidak akan kecewa, melainkan kita akan berkata: “Sekarang aku tahu, semua yang terjadi dulu itu membawa kebaikan” Mari kita katakan bersama-sama, “Dulu aku tidak tahu, sekarang aku tahu, bahwa semua yang terjadi dulu itu, membawa kebaikan”  Inilah versi sederhana dari Roma 8:28.

Tag: , ,

4 Tanggapan to “Khotbah – Melangkah dengan Pasti dalam Badai Krisis (Ekonomi)”

  1. Lukas Onggo Wijaya Says:

    Ini adalah khotbah di ibadah raya, GKBJ Palembang, tanggal 09 November 2008. Mudah2an menjadi berkat bagi jemaat di sana. Termasuk saya sendiri… Gbu all….

  2. grace Says:

    Sungguh sangat menginspirasi dan memberkati saya dan keluarga. Terimakasih Pak Lukas Onggo wijaya. Tuhan Memberkati..

  3. rina Says:

    terima kasih, sangat menginspirasi saya.

  4. Hendri Yunus Pinem Says:

    Setelah saya baca, Ilustrasi yg mantap bawa berkat bagi kehidupan dan juga menambah bahan dlm berkhotbah …………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: