Naskah Khotbah – Pelajaran dari Tulah Pertama

CB055216

Pendahuluan
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Kristus, apakah anda tahu berapakah lamanya seorang manusia dapat tetap bertahan hidup walaupun ia tidak makan sesuatu apapun dan hanya dengan minum air? Dan apakah saudara-saudara tahu, berapakah lama seorang manusia dapat berhidup hidup tanpa meminum air sama sekali? Menurut buku yang saya baca, seorang manusia dapat bertahan hidup tanpa makan (dan dengan hanya minum air) selama kurang lebih satu bulan. Tetapi tanpa minum air, manusia hanya dapat bertahan hidup selama kurang dari tiga hari.

Misalkan, saat ini saudara-saudara mau dihukum oleh Tuhan selama tujuh hari; dan Tuhan memberikan kepada saudara-saudara dua pilihan hukuman: menarik semua makanan yang anda miliki atau menarik semua air minum yang anda miliki; manakah hukuman yang anda akan pilih? Saya percaya pasti kita akan memilih dan memohon agar Tuhan menarik makanan yang kita miliki saja, tetapi jangan menarik air minum yang kita miliki. Jika Tuhan sampai menghukum kita dengan menarik air minum yang kita miliki, maka pasti Tuhan sedang benar-benar serius dengan maksud dan tujuan-Nya.  

Kalimat Peralihan
Sekarang saya akan memberikan satu kuis Alkitab kepada saudara-saudara. Di dalam Alkitab, dalam peristiwa apa Tuhan pernah menghukum manusia dengan membuat air mereka menjadi tidak bisa di minum??? Mari kita membaca Keluaran 7:14-25.

Isi
Dalam setiap penghukuman dari Tuhan, selalu ada unsur pengajarannya. Ketika Tuhan menghukum kita, selalu ada sesuatu yang ingin Tuhan ajarkan kepada kita. Mari kita melihat bersama, dalam penghukuman Tuhan kepada Bangsa Mesir ini melalui tulah pertama ini, pengajaran apakah yang Tuhan ingin berikan kepada kita.

1. Jangan Mendewakan Apa yang Sebenarnya Hanya Menjadi Saluran Berkat Allah
Sungai Nil dipercaya oleh orang Mesir membawa berkat bagi kehidupan mereka. Oleh karena keberadaan Sungai Nil lah, maka Mesir dapat menjadi suatu negeri yang pertaniannya amat subur dan menjadi kerajaan yang berkembang dengan pesat. Berhubungan dengan fakta bahwa dalam setahun hujan hampir tidak terjadi di Mesir, maka Sungai Nil juga menjadi hampir satu-satunya sumber air minum bagi orang Mesir. Dengan alasan-alasan inilah, orang-orang Mesir sangat mendewakan Sungai Nil. Sungai Nil dipercaya dikuasai oleh seorang dewa bernama dewa Hapi. Hal inilah yang menjadi alasan dari tindakan Firaun yang biasa datang ke Sungai Nil pada pagi hari, yaitu untuk memberikan persembahan atau sesajen kepada dewa sungai Nil untuk memohonkan berkat.

Tuhan menggunakan moment di mana Firaun pada pagi hari datang ke tepi Sungai Nil untuk mempersembahkan persembahan kepada dewa Sungai Nil, untuk menjelaskan kepada orang Mesir bahwa mereka telah salah mengerti. Sungai Nil hanyalah merupakan salah satu alat penyalur berkat Tuhan bagi orang Mesir, dan bukan tuhan itu sendiri. Yang harus disembah, dihormati, dan ditakuti adalah Allah yang memberikan berkat-Nya melalui Sungai Nil, dan bukan sungai Nil itu sendiri yang dijadikan sebagai dewa. Kesuburan Mesir akibat adanya Sungai Nil telah membuat orang Mesir, khususnya Firaun, merasa aman dan tidak merasa perlu takut akan Allah orang Ibrani, serta tidak perlu mengakui keberadaan dari Allah orang Ibrani. Akhirnya, Allah memberikan hukuman dan pengajaran-Nya kepada orang Mesir dengan mengubah air Sungai Nil menjadi darah, untuk menunjukkan siapakah yang menjadi Allah sebenarnya, siapakah yang berkuasa atas Sungai Nil, dan siapakah yang sebenarnya memberikan berkat kesuburan kepada orang Mesir melalui Sungai Nil.

Pengajaran dari penghukuman Tuhan melalui tulah pertama kepada orang Mesir ini juga seharusnya menjadi pelajaran bagi kita. Kita tidak seharusnya terlena dengan berkat-berkat yang Tuhan berikan kepada kita, dan malah “mendewakan” apa yang hanya adalah saluran berkat Tuhan. Akan sangat gampang bagi kita melupakan sang pemberi berkat, yaitu Tuhan itu sendiri, dengan terlalu terlena dengan berkat-berkat yang Tuhan berikan kepada kita dan membuat kita menjadi tanpa sadar “mendewakan” apa yang hanya adalah saluran berkat Tuhan tersebut.

Apa contohnya? Mungkin orangtua kita lah yang selama ini menjadi saluran berkat Tuhan bagi kita. Mungkin orang tua kita diberkati dengan perekonomian yang cukup. Tentu saja berkat Tuhan boleh kita nikmati, tetapi jangan sampai hal itu membuat kita melupakan Tuhan. Kita menjadi terlalu bergantung kepada orang tua kita akan pemenuhan kebutuhan hidup kita, dan bukan kepada Tuhan yang merupakan pribadi sebenarnya yang mencukupkan kebutuhan hidup kita sehari-hari.

Dan perlu kita ingat bahwa berkat Tuhan itu tidak selalu berupa materi atau uang, tetapi dapat juga berupa kesehatan, pendidikan, kasih sayang dari seseorang, pekerjaan, dan lain sebagainya. Waspadalah jangan sampai penyalur dari berkat-berkat Tuhan tersebut menjadi kita “dewakan”; membuat kita menjadi lupa sumber dari berkat-berkat tersebut, sang pemberi-Nya yang sejati.

2. Hukum Tabur Tuai: Suatu dosa harus dibayar, tidak pernah lewat begitu saja
Ada satu hal yang harus kita mengerti terlebih dahulu, saudara-saudara yang dikasihi oleh Kristus. Melakukan dosa itu, hampir sama seperti berbelanja dengan kartu kredit. Anda melakukan dosa sekarang, menikmati kepuasaan atau kesenangan dari hal itu sekarang, tetapi pada waktunya kita harus membayar perbuatan dosa kita tersebut. Ingatlah bahwa suatu perbuatan dosa tidak pernah gratis, tetapi harus dibayar. Suatu perbuatan dosa yang kita lakukan dengan sengaja, yang kita lakukan tanpa pernah mengaku dosa kita tersebut dan meminta pengampunan kepada Tuhan, tidak pernah akan lewat begitu saja dan dianggap lunas. Kecuali kita mau mengaku dosa kita tersebut dan meminta pengampunan kepada Tuhan, suatu saat kita akan ditagih untuk perbuatan dosa yang kita pernah lakukan. Ini adalah prinsip atau hukum tabur tuai yang diajarkan oleh Alkitab. Mari kita melihat sebentar Galatia 6:7.

Lalu, mungkin saudara-saudara berpikir sekarang, apa hubungannya dengan peristiwa tulah pertama? Tulah pertama yang diberikan Tuhan sebagai hukuman kepada orang Mesir adalah salah satu contoh dari pelaksanaan hukum tabur-tuai dalam Alkitab. Ingatkah saudara-saudara bahwa orang-orang Mesir sendiri pernah mencemari Sungai Nil dengan darah orang yang tidak bersalah??? yaitu tepatnya dengan darah bayi??? Dalam Keluaran pasal 1 diceritakan bahwa orang-orang Mesir pernah mencemari Sungai Nil dengan darah, dengan membunuh bayi laki-laki orang Ibrani, dengan cara melemparkan bayi laki-laki oang Ibrani ke dalam Sungai Nil. Perbuatan keji dan berdosa ini dilakukan oleh seluruh rakyat Mesir atas perintah dari Firaun, maka hukuman dari tindakan mereka ini juga ditanggung oleh semua rakyat. Perbuatan dosa orang-orang Mesir membunuh anak-anak laki-laki dari orang Ibrani, yang dilakukan mereka kira-kira lebih dari 50 tahun yang lalu, tetap diperhitungkan Tuhan dan tidak dianggap lunas atau lewat begitu saja.

Dengan demikian, mari kita mengingat hal ini sekali lagi dengan sungguh-sungguh. Ingatlah bahwa berbuat dosa sama seperti berbelanja dengan kartu kredit: anda lakukan sekarang, nikmati sekarang dengan kepuasaan dan kesenangan, tetapi nanti pada waktunya anda harus membayar. Jangan pernah menganggap bahwa perbuatan dosa kita akan dianggap oleh Tuhan lewat begitu saja atau lunas begitu saja. Kita harus mempertanggung-jawabkan setiap perbuatan kita kepada Allah, baik atau buruk. Selama masih ada kesempatan, bertobatlah. Akuilah dosa kita di hadapan Tuhan dan mintalah pengampunan dari Tuhan. Maka, Ia yang adalah Allah yang setia dan adil, akan mengampuni dosa kita dan menyucikan kita.

Penutup
Ingatlah bahwa setiap penghukuman dari Tuhan kepada kita selalu akan memberikan suatu pengajaran kepada kita, dan setiap hal yang Tuhan lakukan kepada kita, anak-anak-Nya, selalu memiliki maksud baik. Seperti yang firman Tuhan katakan dalam Mazmur 94:12, berbahagialah orang yang dihajar dan diajar Tuhan. Jadi, kalaupun kita saat ini merasa sedang dalam penghukuman Tuhan, bersyukurlah. Karena itu berarti Tuhan masih menyayangi kita dan mau agar kita berbalik kepada-Nya.
Sekali lagi, ingatlah bahwa jangan mendewakan apa yang adalah saluran berkat Tuhan bagi kita. Dan jangan juga menganggap enteng dosa kita. Tuhan membenci dosa dan akan memperhitungkannya. Di hadapan Tuhan, dosa tidak akan menjadi lewat begitu saja.

Terakhir, mengapa Firaun tidak mengerti apa yang baru saja kita pelajari? Hal itu terjadi karena Firaun tertipu oleh dunia. Untuk kita, jangan mau tertipu oleh dunia. Dunia dapat menipu kita dengan mengatakan bahwa kita tidak memerlukan Allah. Dunia tampaknya dapat memberikan apa yang saudara-saudara butuhkan. Tetapi, yang dunia berikan hanya bersifat sementara dan biasanya akan semakin merusak kita sendiri. Belajarlah dari kesalahan Firaun. Ketika ia melihat bahwa ahli-ahli sihirnya dapat melakukan hal yang sama, ia menjadi tertipu dan merasa bahwa ia tidak perlu takut akan Allah. Sayangnya Firaun tidak menyadari bahwa ahli-ahli sihirnya tidak dapat mengubah kembali air yang telah menjadi darah itu kembali menjadi air. Amin.

Tag: , , , , ,

Satu Tanggapan to “Naskah Khotbah – Pelajaran dari Tulah Pertama”

  1. Ependi Sembiring Says:

    Terima kasih atas ilustrasi Pelajaran dari Tulah Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: