Naskah Khotbah – Bijaksana Berelasi

ga071109

Pendahuluan

Di dalam hidup ini, kita menemukan berbagai macam, jenis, orang.  Ada orang yang begitu menyenangkan.  Ada yang begitu memberikan inspirasi bagi kita.  Ada juga yang begitu luar biasa membuat pusing tujuh keliling. 

Banyak masalah sebenarnya timbul karena kita mengalami konflik dengan orang lain.  Dan ketika relasi kita dengan orang lain tidak baik, hidup menjadi tidak menyenangkan.  Kalaupun kita sedang senang hati, tiba-tiba melihat dia lagi, langsung suasana hati kita berubah.  Hidup menjadi tidak menyenangkan.  Oleh karena itu, adalah sangat penting bagi untuk belajar bagaimana bisa membangun relasi yang baik dengan orang lain. 

 Intinya, sebenarnya adalah kembali ke hukum tabur tuai.  Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai.  Demikian juga halnya dengan relasi kita dengan orang lain.  Yakobus 3:18 (BIS) mengajarkan “memang kebaikan adalah hasil dari benih damai yang ditabur oleh orang yang cinta damai!”, dan ketika kita menabur damai, yang akan kita panen adalah relasi yang damai dengan orang lain. 

 Sesungguhnya setiap hari dalam relasi kita dengan orang lain, kita menabur benih.  Ada yang menabur benih kemarahan, iri hati, egois; ada juga yang menabur benih damai, kemurahan.  Saudara mau memanen apa dalam relasi saudara, tergantung dari benih seperti apa yang saudara tabur.

 Kalimat Peralihan

Hidup adalah pilihan.  Kita melihat pilihan itu ada setiap hari.  Sekarang semua tergantung bagaimana dengan kita.  Maukah kita menabur benih damai?  Bagaimana caranya agar kita bisa menabur benih damai?  Firman Tuhan berkata: dengan memiliki hikmat.  Mari kita membaca dari Yakobus 3:14-17.

 

Isi

Ada 2 jenis hikmat di sini.  Hikmat yang dari dunia, dan hikmat yang dari atas.  Hikmat dari dunia mengajarkan iri hati, egois, akan selalu menguntungkan kita dalam berelasi dengan orang lain.  Tetapi, saya yakin kita semua setuju bahwa sesuai ayat 16, kekacauan terjadi ketika ada orang egois dan iri hati.   Jika kita memiliki sifat iri hati dan egois, relasi kita dengan orang lain tidak akan pernah baik.

 

Lalu bagaimanakah kita secara bijaksana, secara berhikmat, membangun relasi baik dengan orang lain yang sesuai dengan firman Tuhan?  Mari kita memperhatikan ayat 17.

1.   Bijaksana berelasi: tetap murni.

Firman Tuhan berkata kita harus murni dalam berelasi dengan orang lain.  Murni dalam berelasi dengan orang lain, dalam arti kita tidak akan berbohong, kita tidak akan mencurangi, kita tidak akan memanipulasi dalam relasi saya dengan orang lain.  Mungkin kita semua pernah bertemu dengan orang-orang yang terlihat bahwa ia sedang berbohong dengan kita, atau ia sedang berusaha memanipulasi kita.  Kita tidak pernah nyaman dengan orang-orang yang demikian.  Demikian juga halnya yang relasi kita rasakan, saat kita tidak murni dengan mereka. 

 

Dalam relasi kita dengan orang lain, jadilah seorang yang murni.  Jangan menjadi seorang pembohong.  Karena semua hubungan baik, dibangun atas dasar penghargaan dan kepercayaan.  Jika kita tidak bisa dipercaya, maka kita tidak akan bisa menjalin relasi yang baik dengan orang lain.

 

2.   Bijaksana berelasi: tidak suka menimbulkan kemarahan. 

Firman Tuhan berkata, seorang yang bijaksana dalam berelasi dengan orang lain, adalah seorang pendamai.  Ia adalah seorang yang tidak suka mencari pertengkaran, tidak suka menimbulkan kemarahan.  Pernahkah saudara bertemu dengan seseorang yang memang suka mencari pertengkaran?  Nyamankah saudara berelasi dengan orang seperti ini?  Firman Tuhan berkata, Amsal 20:3 (BIS) “Hanya orang bodohlah yang suka bertengkar; sikap yang terpuji ialah menjauhi pertengkaran.”

Menjauhi pertengkaran dapat kita lakukan dengan menghindari hal-hal yang biasa menimbulkan pertengkaran.  Hal-hal apa sajakah itu? membanding-bandingkan, menyalahkan orang lain, suka membantah.  Hal-hal inilah yang harus kita hindari. 

 

3.   Bijaksana berelasi: Tidak akan menganggap enteng perasaan orang lain. 

Firman Tuhan berkata, seorang yang bijaksana berelasi adalah seorang peramah.  Apakah yang dimaksud sebagai peramah?  Peramah bukan hanya berarti murah senyum, tetapi “considerate” = mempertimbangkan perasaan orang lain. 

 

Ada sebuah anggapan umum yang salah bahwa jika saya tidak merasakan seperti yang engkau rasakan, maka perasaanmu pastinya salah, tidak beralasan, atau bodoh.  Hal ini tidaklah benar.  Jika kita tidak merasakannya, dan mereka merasakannya, itu tetap berarti mereka merasakannya.  Seringkali kita kurang mempertimbangkan perasaan orang lain, hanya karena kita tidak merasakan hal yang sama dengan yang orang lain rasakan.  Jangan sakit hati, apabila ia berkata, “kamu tidak mengerti perasaanku.”

 

Terkadang kita begitu gampang berkata kepada seseorang, “saya mengerti perasaanmu”.   Benarkah kita benar-benar bisa mengerti perasaan dia?  Sebab jika tidak, mengatakan hal demikian, hanya akan menyakiti.  Jadilah peramah, jadilah seorang yang mempertimbangkan perasaan orang lain juga.

 

Saya membaca sebuah cerita tentang suami istri yang ribut karena tidak peramah..  Suami pulang dari kantor, mengeluh, “kamu enak di rumah.  tadi jalan macet, di kantor kena marah bos, dan AC kantor rusak.  Saya sangat lelah”.  Istri mendengarnya, menjawab “oh begitu?? Anak kita mencelupkan kucing ke toilet, karena mengurusnya masakan jadi gosong, jadinya saya harus memasak dua kali, dan sementara itu, tadi hujan turun.  Jemuran menjadi basah kembali karena terlambat diangkat, saya harus mencucinya lagi”.  Akhirnya suami istri ini menjadi ribut..  Masalahnya di “considerate”, peramah.   Istri dalam cerita ini tidak perlu berkata kepada suami, saya lebih capek dari kamu.  Terima saja fakta bahwa mereka berdua kelelahan, dan mereka berdua sama-sama butuh untuk relaks, untuk istirahat. 

 

Jadilah considerate = jangan menganggap enteng perasaan orang lain.

 

4.   Bijaksana Berelasi: Bersedia diberikan masukan atau saran. 

Firman Tuhan berkata, seorang yang bijak berelasi adalah seorang penurut.  Maksudnya bukan tiap kali ada apa-apa menurut saja, tetapi kata ini “penurut” dalam bahasa aslinya berarti seorang yang bisa belajar dari siapapun.  Dia tidak membela diri, tetapi bersedia diberikan masukan. 

 

Seringkali tatkala seseorang memberikan kepada kita masukan, kita menjadikannya sebagai kritik kepada diri kita sendiri.  Padahal masukan tersebut bukan dimaksudkan untuk menyakiti kita, tetapi untuk membuat kita menjadi lebih baik. 

 

Ilustrasi: suatu kali, seorang pendeta muda berkhotbah untuk pertama kalinya.  Setelah ia selesai berkhotbah, di salamin oleh seorang pendeta senior.  Pendeta senior ini berkata, “Nak, tadi khotbah kamu sangat jelek”.  Pendeta muda ini, belajar untuk bersedia diberikan masukan, bertanya, “Kenapa bisa jelek pak?”  Pendeta senior tersebut menjawab, “ada 3 alasan mengapa khotbahmu jelek.  Pertama, karena kamu membawakannya dengan membaca naskah, Kedua, karena kamu membacanya dengan cara yang sangat buruk.  Ketiga, karena naskahnya memang jelek”.  Pendeta senior ini pergi, datanglah seorang jemaat, berkata kepada pendeta muda ini, “Jangan dengarkan dia.  Dia hanya mengulang, kritik yang dia selalu denger dari jemaatnya sendiri setiap minggu”.  Artinya, pendeta senior ini mau mengkritik orang, tetapi tidak pernah bersedia dikritik.  Itulah kebodohan.  Amsal 12:15 (BIS) berkata “Orang dungu merasa dirinya tak pernah salah, tapi orang bijaksana suka mendengarkan nasihat”

 

 

5.   Bijaksana Berelasi: tidak menekankan kesalahan orang lain. 

Firman Tuhan berkata, seorang yang bijak berelasi tidak akan menekankan kesalahan orang lain, tidak selalu mengingat-ingat kesalahan orang lain.  Dia adalah seorang yang penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik.  Bagaimana kita tahu apakah kita ini suka menekankan pada kesalahan orang lain atau tidak?  Pernahkah kita berkata, “Kamu itu selalu begitu…”  Atau pernahkah kita berkata, “Ingatkah kamu bahwa kamu pernah melakukan kesalahan ini..”  Oh… jika pernah berkata demikian, atau bahkan sering berkata demikian, kita belum menjadi seorang yang bijak berelasi.  Kita belum menjadi seorang yang penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik.

 

Amsal 17:9 (BIS), “Kalau ingin disukai orang, maafkanlah kesalahan yang mereka lakukan. Membangkit-bangkit kesalahan hanya memutuskan persahabatan”.  Dan ini benar sekali.  Relasi kita dengan sahabat, suami, istri, pacar, pastilah akan rusak apabila kita menjadi orang yang suka menekankan pada kesalahan orang lain. 

 

Ilustrasi: Suatu kali, seorang pria mengobrol sampai larut malam dengan temannya.  Pria ini mengaku kepada temannya ini, “wah.. saya akan celaka malam ini”.  Temannya berkata, “masa sampai separah itu???”  Lalu pria ini pulang ke rumah, bertemu dengan istrinya.   Keesokan paginya, pria ini kembali bertemu dengan temannya itu, dan temannya langsung berkata, “bagaimana semalam istrimu?  Apa yang terjadi?”  Pria itu hanya menjawab, “saya pulang ke rumah, dan istri saya menjadi historis”.  Temannya bingung, “historis??? Maksud kamu histeris??”  Pria ini menjawab, “bukan, istriku menjadi historis.  Dia menceritakan kepadaku semua kesalahan lain yang pernah ku perbuat.”

 

6.   Bijaksana Berelasi: Tidak menyembunyikan kelemahan sendiri.

Tanda dari seorang yang bijaksana berelasi adalah ia tidak berusaha untuk menyembunyikan atau memalsukan kelemahan mereka sendiri.  Dia bukanlah seorang yang munafik. 

 

Amsal 28:13 berkata “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.”  Seringkali yang terjadi adalah ketika kita mulai memberitahu kepada orang lain kelemahan kita, yang shock bukan orang lain, tetapi diri kita sendiri.  Kita menjadi shock karena bingung, “kok dia sudah tahu???”  Selama ini dia sudah tahu kelemahan diri kita sendiri, dan mereka tetap berteman dengan kita.  Setelah kita mengakuinya, kita bukannya akan ditinggalkan, tetapi malah lebih disayang – maka itulah teman sejati. 

 

Penutup

Kita sudah punya 6 cara untuk bijaksana berelasi dengan orang lain.  Yaitu:

1.   Bijaksana berelasi: tetap murni.

2.   Bijaksana berelasi: tidak suka menimbulkan kemarahan. 

3.   Bijaksana berelasi: tidak akan menganggap enteng perasaan orang lain. 

4.   Bijaksana Berelasi: bersedia diberikan masukan atau saran. 

5.   Bijaksana Berelasi: tidak menekankan kesalahan orang lain. 

6.   Bijaksana Berelasi: tidak menyembunyikan kelemahan sendiri.

 

Semuanya dimulai dengan bersikap bijaksana, dengan memiliki hikmat.  Jika saudara berkata, wah hal ini terlalu sulit.  Saya tidak bisa melakukan salah-satu dari 6 point ini, hal ini berarti saudara kekurangan hikmat.  Yang perlu saudara lakukanlah hanyalah berdoa memintanya kepada Tuhan (Baca Yakobus 1:5-6).  Mari kita berdoa.

* point2 khotbah disadur dari khotbah Rick Warren – How to relate wisely to others..

7 Tanggapan to “Naskah Khotbah – Bijaksana Berelasi”

  1. evelin Says:

    trima kasih untuk ringkasan ini, ini akan sangat membantu saya dalam berelasi dengan orang lain.

  2. Pdt. J. Edwind Berhitu, S.Th Says:

    Thanks ya isnpirasinya, sangat memnagun dalam pelayanan saya, TUHAN memberkati Anda.

    Pdt. J. Edwind Berhitu, S.Th
    GMAHK jemaat Eben-Haezer Kota Bandung
    PO.BOX 6719 BDCP Bandung 40161
    telp. 92321675
    e-mail : ebenhaezersda@yahoo.co.id
    web : www. sdaebenhaezer.org

  3. Nancy Says:

    Puji Tuhan atas kotbah ini, sangat memberi dorongan, cabaran dan menegur saya secara pribadi… God bless us..

  4. gaban perez Says:

    Thanks, sangat2 memberkati God bless…

  5. Ependi Sembiring Says:

    Terimaksih atas 6 cara berelasi bijaksana yang disampaikan
    yang dapat kita pakai dalam membina hubungan terhadap relasi kita, sehingga tetap bisa menjadi mitra kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: